Andalan

Sajak: Tanpa Pacarpun Aku Bisa Merindu!

Hidupmu menjadi layu, debu-debu bertebaran diinjak oleh mobilisasi rindu.

Paru-parumu mulai lesu, sesak karena debu rindu tak kunjung berlalu.

Jiwamu mulai terasa berlalu, akibat asap dan debu rindu yang kian menderu.

Padahal kau pun tak tau kepada siapa engkau merindu!

Coba kau selami rasa dan pikiranmu, Siapa tau, kau sedang rindu pada Nabimu?

Iklan

Motivasiku Menulis

Sumber: simonas.net

Banyak kulihat rangkai tulisan yang sangat romantis, begitu lembut dan puitis.

Menyanjung hati di tiap baris, menyentuh hati sampai menangis.

Melihat diksi-diksi yang sangat eksotis, membuatku semangat untuk kembali menulis.

Hadirnya Sang Bulan

sumber: pinterest.com, Bulan menjelang pagi

Sang Putri malam duduk manis ditempat biasanya, ribuan tentara menawan nan gagah perkasa selalu hadir melindungi dan menjagamu di tiap hari-harimu. Nyanyian merdu dibalik pohon dan batu menemanimu.

Hadirmu menenangkan jiwa-jiwa yang lelah, menyinari jalan-jalan yang gelap, buah inspirasi sebelum terlelap, mengungkap tabir-tabir kerinduan yang selama ini disekap.

02:37 WIB

Pariaman, 23 Juni 2019

Cerpen: Titik Balik!

“Bagaimana jadi engga kita skadaw?”(bahasa yang dia buat bersamaku untuk minum-minuman keras)

Kuylah” jawabku.

Aku dan Nurwan biasanya menghabiskan malam dengan minum-minuman keras sambil menertawakan dunia yang goblok ini. Sifatnya yang keras kepala dan mendominasi ini sudah ku anggap sebagai kakak ku sendiri, dia selalu menjadi pelindungku disaat masalah atau ancaman datang kepadaku.

“Aku engga ada uang nih.” Keluhku sambil mengkorek isi sakuku.

Lu kaya ga tahu gue aja, miskin.” Jawabnya sombong.

            Rumahku dan rumah Nurwan jaraknya sekitar 50 meter, rumahku berada di ujung gang cendana sedangkan rumahnya berada di tengah-tengah komplek perumahan gang tersebut, rumahnya megah dan besar. Nurwan seorang anak pejabat, Ayahnya seorang praktisi saham dan anggota dewan, ibunya juga seorang eksckutif di sebuah perusahaan BUMN di Indonesia.

            Berbeda dengan Ayahnya Nurwan, Ibunya bekerja dari Rumah, aku tahu Nurwan karena kami berteman sejak kecil, SD, SMP dan SMA terkadang aku minder bergaul dengan dia karena dia anak orang kaya, sedangkan aku anak sederhana yang tinggal di ujung gang.

“Wow, merah-merah, mantap.” Jawabku terpelongo melihat isi dompetnya.

“Kita skadaw-skadaw ­sampai goblok, ya?” tanyanya sambil merangkulku.

“Okee, tapi seperti biasa, aku minum ga banyak, ya?” Menahan takut mabuk.

Yoi, ma men” Jawabnya.

            Aku memang mengenalnya sejak lama, dia tak pernah perhitungan dengan uangnya kepadaku, aku juga sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Ya, Nurwan anak tunggal dari keluarga kaya raya, dia berteman baik denganku waktu aku menyelamatkannya dari pekelahian hebat waktu SMP, dia di keroyok sampai babk belur sampai dirawat di ruang unit gawat darurat, dari sanalah Nurwan selalu mengajakku kemana-mana.

            Nurwan mempunyai hubungan yang tidak harmonis terhadap kedua orangtuanya, tiap dia pulang malam bersamaku dia selalu menceritakan pertengkaran dengan orang tuanya, Ayah dan Ibunya selalu memarahinya dan dia selalu menjawab perkataan orang tuanya itu.

            Malam berlalu seperti biasanya, kami pulang ke rumah masing-masing, dia menghabiskan uangnya dalam satu malam saja di diskotik, sekitar 2km dari rumah kami.

Lu dimana, skadaw lagi yuk?” Tanyanya cepat.

Lah, ini kan masih siang.” Jawabku heran.

“Gapapa, hayoook” Tambahnya memaksa.

Gue kuliah nanti sore cok” Tolakku.

“Kan besok bisa masuk kuliah lagi.” Memaksa.

Yaudah deh, ayo.” Jawabku pasrah.

            Kami kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, bedanya, dia masuk jalur mandiri sedangkan aku jalur rekomendasi. Aku kuliah di Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen sedangkan Nurwan di Fakultas Kedokteran jurusan dokter. Ya, orang tua Nurwan ingin anaknya menjadi dokter.

            Setelah kami sampai di diskotik, dia bercerita bahwa terjadi pertengkaran hebat dirumahnya.

“Ada ini, amankan?” Menunjukkan kartu kredit.

Lah, bukannya kartu kredit lu udah habis kemarin?” tanyaku heran.

“Ini kartu kredit nyokap gue” Jawabnya sambil mengipas-kipaskan kartu kredit.

Wah, kebangetan lu wan” Jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

            Seperti biasanya, kami pulang larut dengan keadaan mabuk. Sebenarnya aku sudah lelah dengan mabuk-mabukan, tapi karena Nurwan terus memaksa dan membelikan apa keinginanku, dia  selalu berkata “engga ada teman yang bisa diajak selain elu.”

            Baru saja aku membuka pintu kamarku, tiba-tiba.

Lu ke rumah gue cepet, anj*ng!” Dalam keadaan menangis.

Suara sirine ambulans terdengar di komplek perumahanku.

“Ada apaan sih?” tanyaku dalam hati heran.

Aku segera bergegas ke rumah Nurwan dalam keadaan sempoyongan.

“Kok rame-rame di depan rumah Nurwan? Pasti ada yang engga bener nih” Masih heran.

Seseorang dimasukan kedalam ambulans, aku mencari mencoba mencari Nurwan, mencoba masuk kedalam rumah Nurwan dengan perasaan masih heran dan sedikit khawatir. Di dalam keremunan, aku melihat Nurwan tergeletak, tangannya bersimbah darah. Aku sedikit terkejut melihatnya, tiba-tiba dia berdiri dan memelukku.

Nyokap gue er, nyokaap..” Jawabnya sambil terseguk-seguk.

Udah, tenangkan jiwa lu dulu, kenapa nyokap lu? Tanyaku heran dan masih terkejut.

            Dalam keadaan menangis Nurwan bercerita, rumahnya disatroni maling. Saat dia masuk ke rumah, ibunya sudah tergeletak dengan banyak tusukan dibadannya.

Yaudah, kita ke rumah sakit saja dulu.” Jawabku menenagkannya.

            Setelah menunggu beberapa saat di ruang tunggu, dokter keluar dari ruang UGD.

“Bagaimana keadaan ibu saya, dok?” Tanyanya cepat.

“Ibu Anda dalam keadaan baik saja, tapi berita buruknya tangan dan kaki ibu Anda harus di amputasi karena tusukan beda karat” Jawab dokter sambil berlalu ke ruang bedah.

            Nurwan kembali duduk di ruang tunggu sambil menundukan kepala, tangisnya pecah, suara tangisnya tak terdengar tapi tetes air mata jatuh deras membasahi lantai putih di ruang tunggu.

“Pasti sembuh kok..” Usahaku menengkan nurwan sambil mengelus punggungnya.

            Tak lama kemudian, handphone Nurwan berdering. Aku coba mengangkatnya.

“Halo, ini siapa?” Tanyaku.

“Apa betul ini anak dari bapak Nurwan Salim?” Tanyanya.

“Bukan ini temannya, Nurwan sedang berduka, ada apa, dan dengan siapa ini?” Tanyaku kembali.

“Bisa berikan kepada Nurwan?” Tegasnya.

Eh Wan, Ada yang  yang nyariin lu?” Memberkan handphone.

            Tak lama setelah itu tangisnya makin meledak.

Wei, kenapa?” Tanyaku heran.

            Nurwan terlihat lemas dan pucat, kubiarkan dia untuk menenangkan dirinya. Aku juga tak bisa membendung rasa sedihku. Aku coba mengelilingi ruang tunggu sambil menahan air mataku. Ya, Ibu Nurwan memang baik kepadaku, banyak kenangan baik kepadaku tapi tidak pada Nurwan.

            Setelah hampir dua jam, dia mulai tenang, kucoba menghampirinya.

“Kenapa?” Tanyaku lirih.

“….Bokap gue tewas diperlintasan kereta dalam perjalanan kesini” Jawabnya pelan.

            Air matanya mulai mengucur kembali, wajahnya pucat, tangannya dingin tak berdarah. Aku juga tak bisa membendung air mataku. Aku coba tegar dan merangkulnya.

            Hari demi hari berlalu, kondisi Ibu Nurwan membaik tapi luka tusuk akibat beda karat pada tubuh ibunya harus diamputasi. Nurwan masih terlihat sedih dan bingung melihat ibunya tanpa tangan kanan dan kaki kanan. Ibu Nurwan masih belum bisa berbicara akibat luka trauma.

Biaya pengobatan yang mahal membuat Nurwan jatuh miskin dan lukanya semakin mendalam karena Ayahnya yang meninggal dalam perjalanan pulang.

“Sial, kok bisa secepat itu sih?” Tanyaku heran pada diri sendiri.

            Sudah hampir 2 minggu Nurwan kutinggal dirumah sakit. Ya, aku juga tinggal sendiri dirumah karena orang tuaku meninggal dalam kecelakan waktu aku kelas 1 SMA dan yang satu-satunya selamat hanya aku. Aku dirawat dan dibesarkan oleh ibu Nurwan karena itu aku mempunyai hubungan emosional yang kuat dengan Nurwan.

            Sesampainya dirumah sakit.

“Bagaimana keadaan nyokap lu?” Tanyaku menghiburnya.

Udah, mendingan kok” Jawabnya lirih.

“Yang sabar yang Wan, gue turut berduka” Aku coba menghiburnya.

“Iya, makasih, er” Jawabnya sambil memlingkan wajah.

“Kalau nyokap gue sembuh, gue ga mau mabuk-mabukan lagi, gue bakal jadi orang yang bener” Berucap sambil menundukan kepala.

“Serius lu?” Jawabku dalam hati.

            Sudah hampir 2 bulan dirumah sakit, akhirnya ibu bisa rawat jalan. Nurwan jatuh miskin, rumah dijual dan kekayaan orang tuanya mulai makin menipis, Nurwan memutuskan untuk menumpang dan merawat Ibunya dirumahku. Dari kejadian tersebut, Nurwan berubah seratus delapan puluh derajat.

“Skadaw yuk? Dikit aja ngilangin stres” Godaku.

ENGGA!” Jawabnya tegas.

            Nurwan mulai berbenah dirinya, dia mulai tak suka mabuk-mabukan lagi, sesekali dia meneteskan air matanya tiap perjalanan menuju ke kampus. Dia mulai giat belajar, dia bukan seperti Nurwan yang kukenal selama ini, sifatnya yang keras dan mendominasi diri tetap sama hanya saja berubah menjadi positif. Aku juga menjadi ikut-ikutan akibat sifatnya yang baru ini, aku juga mulai aktif kuliah kembali.

4 Tahun berlalu.

“Akhirnya wisuda juga gue er” Senyumnya terpancar.

            Ya, aku wisuda lebih dulu, aku menjalani tepat 4 tahun dalam studiku sedangkan Nurwan menajalani masa kuliahnya selamat 6 tahun karena banyaknya nilai yang buruk, dia harus mengulang kembali mata kuliah tersebut.

            Luka psiokologis yang dirasakannya diubahnya menjadi sebuah tekad, Nurwan mendapatkan beasiswa ke luar negeri, ekonominya pun mulai membaik karena Nurwan kuliah sambil kerja sambilan.

Gue ambil, gue ga mau nyokap gue nyesel ngelahirin gue” Ucapnya tegas kepadaku.

            Akhirnya aku dan Nurwan berpisah, dia kembali melanjutkan studinya di luar negeri, Ibunya dibawa bersamanya.

10 Tahun Kemudian

“Assalamu’alaikum, Erdi, Skadaw yuk?” Terdengar dari teras rumahku.

“Kok, engga asing ya” ucapku dalam hati.

            Setelah kubuka pintu, ternyata benar, seorang kawan yang telah lama dirantau orang kembali membawa mobil mewah keluaran toyoya, alfart (sengaja diplesetkan.)

Eeeehh, elu Wan, gue kirain siapa?” Sambil memeluknya.

“Sukses lu sekarang?” Menjabat tangannya kagum.

Yoi, skadaw engga ini, sudah ayok, ikut aja?” Ucapnya menggodaku

“Weeeiii, tunggu..” Sambil menutup pintu dia merangkulku.

            Ternyata didalam mobil tersebut ada Ibunya Nurwan, Ibunya terlihat sehat dan seorang wanita membawa bayi mungil.

“Siapa tu?” Tanyaku pelan.

“Istri gue lah, goblok” Sambil meninju lenganku.

“Bangs*t lu, nikah kok engga ngasih tahu gue, tai!” Kesalku sambil tertawa.

            Selama diperjalanan aku bersenda gurau dengan Ibu dan keluarga kecilnya Nurwan. Dia sudah berubah, dia menjadi orang yang berbeda, orang yang memiliki aura positif, dia sudah tidak bertengkar lagi dengan Ibunya, hidupnya terlihat sangat berbeda yang dulunya seorang yang bangkang dan kurang ajar, sekarang menjadi orang baik dan ramah.

            Setelah, hampir 4 jam dalam perjalanan, kami berhenti di sebuah tempat pemakaman umum.

Ngapain berhenti disini?” Tanyaku heran sambil menunjuk papan TPU.

Udah, ikut aja!” Paksanya.

            Ternyata Nurwan mengunjungi makam ayahnya, dia terlihat khusyuk mendoakan makam ayahnya. Setelah selesai, kami pergi ke rumah makam di tak jauh dari TPU tersebut. Aku masih tak menyangka Nurwan berubah jauh.

            Setelah selesai makan, Ibu dan Istri sertanya sedang bersenda gurau, Nurwan bercerita.

“Mungkin ini pelajaran buat gue, selama ini gue durhaka sama nyokap dan bokap gue” tertunduk dan melihat kearah lain.

            Suasana mulai jadi agak serius, aku dengan tenang mendengarkannya.

“Selama ini, gue ngabisin kekayaan orang tua buat bersifat hedonis (foya-foya), akhirnya Tuhan negur gue, selama lu ninggalin gue dirumah sakit, disebelah kamar nyokap gue, gue liat seorang bapak sholat, terus engga sengaja bapak itu ngeliat gue, selesai solat, bapak itu langsung nyamperin gue.” Menarik nafas panjang.

“Terus?” Tanyaku heran.

“Dia bercerita, tentang kondisi anaknya yang hampir sama dengan kondisi Ibuku, bedanya Istrinya yang meninggal, terus dia bilang, mungkin ini teguran Tuhan untuk bapak anak” Lanjutnya.

Aku masih serius mendengarkan cerita Nurwan, diantara gelak tawa Ibu dan Istri serta anaknya.

“Tiap kejadian ada hikmahnya, tiap hikmah pasti ada pelajaran yang bisa dipetik, tiap yang dipetik harus menyadarkan kita dari keterpurukan” Tambahnya.

“Tuhan menegur langsung kepada diri kita ini, siapa yang sedang kau dzalami, siapa yang sedang kau lukai, bagaimana jika itu ditimpakan kepadamu? Harta siapa yang sedang kau gunakan itu? Mungkin hal yang terjadi padaku juga sama yang terjadi kepadamu” Tambah bapak itu sambil menunjuk Nurwan.

“Akhirnya aku tersadar bahwa, surga itu memang memang benar dibawah telapak kaki Ibu, harta yang terindah itu bukan kekayaan dunia, luka berat yang dilalui nyokap gue menjadi bukti bahwa Tuhan masih memberikan sebagian surganya kepada hambanya yang hina ini” ucapnya dengan mata merah berair.

            Aku masih terdiam sambil menatap senda gurau Ibu, Istri dan anaknya.

Gue kurang bersyukur!” ucap Nurwan.

Gue ada satu pertanyaan buat lu?” Tanya Nurwan.

“Apa?” Tanyaku balik.

“Titik balik seperti apa yang kita inginkan kelak, ketika kita terpuruk?” Tanya Nurwan.

Puisi: 2 Magnet diantara Selembar Kertas

Kau cantik, kau orang yang mau bersenda gurau lama denganku. Tak kala kau bicara, tingkahmu begitu ekspresif, terlihat lucu dan polos seperti anak kecil, tanganmu bergerak kesana kemari.

Setiap mulai giliranku bicara, pupil matamu membesar, senda gurau berhenti, simpul senyummu kau tahan, aku tak mengerti, kau mempunyai rasa yang sama denganku atau kau hanya kagum mendengar ceritaku.

Tiap aku bertemu denganmu, aku tak selalu bisa menutupi rasa suka, cinta dan kagum ini kepadamu, rasanya seperti anak kecil yang lari kepangkuan ibunya saat ada tamu di ruang tengah tamu.

Aku tak tahu kenapa kau begitu hangat kepadaku, “Apakah kehangatan yang kau berikan kepadaku berbeda dari yang kau berikan pada selain aku?” Kenapa kau begitu ramah pada setiap orang? Aku jarang menemukan sosok sepertimu selain ibuku.

Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu, “Kenapa tiap aku melemparkan pertanyaan manis kepadamu kau selalu menjawab asal dan menggantung?” seperti “belum saatnya”, hal itu membuatku semakin heran dan menambah kekagumanku padamu.

Kau selalu “iya” tiap aku ingin berbincang denganmu, kau selalu “bisa” tiap aku membutuhkan pertolonganmu, kau memberikan semangat tiap citaku yang mulai kendur, tapi kau tak bilang “tidak” maupun “iya” tiap aku mencoba menyelami pikiran, khayalan, perasaan serta kehidupanmu.

Aku tak bisa terus memendam perasaan ini, inginku hanya kau menerima aku sebagai lelakimu. Mirisnya, perasaan itu yang masih kupendam. Aku tak tahu kau begitu pula atau sebaliknya atau jangan-jangan kita menikmati rasa yang sama dalam keheningan malam menjelang tidur.

Pariaman, 12 Juni 2019.

04:00, Menjelang tidur seperti biasanya.

Puisi; Sesak di Kepung Rindu.

Ia tak tajam tapi dapat melukaimu, Ia tak tak berwujud tapi dapat menyentuh dan memelukmu, Ia sebuah aktifitas yang dapat memikatmu, Ia dapat membuatmu menangis walaupun dia hanya berdiam saja.

Ia tumbuh dengan cepat dikala hujan, Ia dapat membangkitkan kinerja otakmu, Ia dapat memberikan pompa semangat pada kegiatanmu dan Ia dapat menunggumu walaupun harus mati.

Ia bertindak begitu lebay, Ia pun kadang tak sungkan berbicara kepada siapa saja, Ia pun bisa melepaskan harga dirinya dikala genting, Ia pun dapat membuat tangis semua orang.

Ia memang gila, dia bernama “rindu“, sebuah anugrah pemberian Tuhan.

Beruntungnya, Ia berbentuk rasa, andai saja dia berwujud dan bernyawa, mungkin kita semua tak dapat bernafas, sesak dikepung yang namanya rindu.

26 April 2019

19:00 WIB

Di Kedai Tante, depan Kampus.

Puisi; Jerit Tangis Tanah Agraria

Jeritang tangis anak bangsa yang begitu lantang.

Kata mereka Tanah Ibu Pertiwi dilukai oleh tambang.

Tangis itu tak pernah terdengar oleh mereka yang duduk mengangkang.

Pemberontakannya hanya dianggap sebagai seorang yang bangkang.

            Diantara agraria dan pertambangan, dibatasi oleh kepentingan belaka.

            Memperkaya diri, dengan dalih ‘ini untuk kepentingan bersama’.

            Kesenjangan yang terjadi begitu nyata.

           ‘Ini untuk kepentingan bersama’, yang kau maksud itu seperti apa?

Negara maju, rakyat menjadi debu,

Satu persatu rakyat menjadi bisu,

Dilecut oleh kebijakan yang begitu kaku,

Demi memperkaya dompet dan saku.

           Petaniku tercinta, belum banyak yang bisa kuperbuat untuk kalian,

            Puisi ini bentuk sikapku melawan penindasan,

            Atas kejamnya kebijakan pemerintahan,

            Yang menggerus kesejateraan untuk kepentingan golongan.

Pariaman, 15 April 2019

18:31 WIB

Ba’da Magrib di Cimparuh

Puisi; Demokrasi dan Meditasi

Di saat mereka terbawa kencang arus mimpi, aku duduk menyendiri bertemankan sepi, aku diam bagai orang bisu, sedang otakku berisik bagai sang orator. Masih berfikir kejadiaan hari itu.

Gelisahku tentang kehidupan, aku sadar itu sebuah kefanaan, tapi kenapa mereka bertindak bagaikan Tuhan?

Memvonis, mengkafirkan, menjudge itu memang perkara kebebasan bersuara tapi tak perlu kau tebar kebencian.

Puisi; Doa Sang Bucin (Budak Cinta) Islami

Tuhan, kenapa dia begitu memikat, cantiknya membuat aku tertambat, di kepulan asap rokok yang padat, aku tergila-gila hingga syahwatku meningkat.

Oh Tuhan, jika dia baik untukku dekatkan dia untukku, jadikan dia ladang amal bagiku, untuk menuju pada-Mu, Tuhanku. Jika dia nafsu belaka, palingkan aku dari dia.

Tuhan, aku berikhtiar untuk yang baik, tapi tiap keputusan yang terbaik hanya pada ada pada-Mu.

Tuhan, wanita yang baik bagimu itu seperti apa?

10 Februarui 2019
03:30 WIB
Dapur dekat kamar belakang

Puisi; Anak Petani Si Pejuang Kebaikan

Aku tak punya kuasa untuk memaksakan daun jatuh berguguran, hanya Tuhan yang mempunyai kekuatan itu.

Aku hanya di embani tugas untuk merawat pohon yang telah dibesarkan oleh para pendahuluku.

Banyak parasit pun akan tetapku rawat, sampai pohon itu siap berbuah ataupun berbunga.

Serta, sampai aku siap untuk menebar benih dari buah itu. Untuk keberlangsungan hidup yang mandiri.

Aku yakin, tumbuhnya nanti pun akan memberikan oksigen dan makanan bagi kehidupan makhluk Tuhan.

Pariaman, 19 Januari 2019
02:07 WIB
Ditengah ruang yang dingin