Puisi; Demokrasi dan Meditasi

Di saat mereka terbawa kencang arus mimpi, aku duduk menyendiri bertemankan sepi, aku diam bagai orang bisu, sedang otakku berisik bagai sang orator. Masih berfikir kejadiaan hari itu.

Gelisahku tentang kehidupan, aku sadar itu sebuah kefanaan, tapi kenapa mereka bertindak bagaikan Tuhan?

Memvonis, mengkafirkan, menjudge itu memang perkara kebebasan bersuara tapi tak perlu kau tebar kebencian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s